Andai kutahu menikah dengannya menjadi bencana perjalanan hidupku, tak akan ku tergoda pada paras cantiknya. Andien begitu tega dan tidak bermoral, bahkan terang benderang berselingkuh dan menantangku untuk ikut melakukan hal yang sama.
Sepuluh tahun silam. Peristiwa di kamar 503 hotel di Bandung, masih terekam jelas dalam ingatanku sampai saat ini. Begitu susahnya melepaskan kenangan pedih, melihat dengan jelas perselingkuhannya dengan Bobi.
Bahkan seolah tidak terusik kehadiranku dikamar hotel itu, mereka bukan menyudahi perbuatannya, malah makin membara ‘bergoyang’.
Kutatap pedih aksi mereka. Tanpa sehelai pakaian menutup tubuh, tampak jelas posisi mereka masih di atas kasur.
Namun temenku yang ikut turut penggerebekan, tidak mampu membendung amarahnya pada Bobi. Bogem mentah langsung bersarang di wajah selingkuhan istriku itu.
Hilang Tanpa Berita
Sejak itu, tiada kabar kuketahui tentang Andien. Hilang tanpa jejak sejak peristiwa itu. Entah dimana rimbanya kini.
Meski batinku pedih, namun anak semata kami masih menjadi ‘obat’ pelipur lara. Hari hari kujalani dengan Dewi, membesarkannya seorang diri tanpa ibu kandungnya.
10 tahun berlalu. Selama itu, aku tidak terpikir menikah lagi. Apalagi mengenal atau dekat dengan wanita manapun.
Batinku tergores karena cinta. Bahkan semua wanita kuanggap sama saja. Senang diawal namun bermasalah nantinya di kemudian hari.
Memang ada yang mencoba menggoda hasrat kelakuanku. Termasuk saran keluarga, agar aku kembali menikah.
Namun semua itu, tidak mengubah prinsipku. Bahwa sudah selesai urusan wanita di dunia. Dan hanya khusus mendidik anak perempuanku, agar tumbuh dengan akhlak baik nantinya.
Dijemput Ajal tersiksa
Tak kusangka ku kembali bertemu dengan Andien. Namun sangat menyedihkan, saat Andien ditemui dalam keadaan sekarat.
Begitu miris hatiku saat menemuinya, di sebuah tepi jalan tidak jauh dari tempat tinggalku. Karenanya banyak warga yang tahu tentang Andien.
Waktu itu, warga mencegatku saat berangkat kerja. Dan memaksaku melihat Andien yang sebagian tubuhnya penuh luka, ada juga belatung di beberapa bagian tubuhnya.
Sungguh aku terkejut melihatnya kondisi fisiknya. Seakan ajal tengah menghampirinya, untuk dibawa pulang pada Sang Pencipta.
Napasnya pun sudah terhenti. Sepertinya Andien telah pergi untuk selamanya. Wajah Andien yang kukenal, masih ada sedikit sisa melekat dengan dirinya.
Terlihat tangannya menggenggam foto usang. Kuambil foto itu, airmataku tak mampu kupertahankan.
Aku menangis. Aku menjerit. Tanpa ku sengaja, kukatakan pada jasadnya, kumaafkan dosanya.
Ditelan Bumi
Bagaimanapun Andien adalah ibu dari anakku. Istri yang pernah bersamaku.
Akhirnya kuminta warga membawa Andien ke rumahku. Termasuk aku turut membopong jasadnya, untuk segera dimandikan dan dikuburkan.
Namun sebuah peristiwa, membuatku terperangah dengan jasad Andien. Air yang dibasuh ke tubuhnya, sama sekali tidak menyentuh tubuhnya.
Terpaksa Andien dikafankan dalam keadaan apa adanya, saat pertamakali kutemui di tepi jalan raya itu.
Upaya membawa jasad Andien pun, bukan hal mudah. Sangat berat dan terlalu berat dipikul banyak orang. Sampai solusi diderek kerandanya dengan mobil.
Begitupun saat jasad Andien diletakkan dalam tanah. Sebuah kejadian yang membuat diriku masih teringat sampai saat ini.
Persisnya saat jasad Andien telah diletakkan di dalam tanah, hendak ditimbun dengan tanah. Tiba – tiba tanah yang menopang jasad Andien runtuh seketika. Seperti lobang besar yang terbuka.
Jasad Andien hilang. Masuk ke dalam lobang besar dalam kuburannya. Tertelan bumi tanpa jelas berapa dalam jaraknya.
Kutatap lobang di dalam tanah makamnya itu. Airmataku kembali meleleh, sambil meminta ampun pada pemilik dunia ini, agar dimaafkan kesalahan dan dosa Andien semasa hidupnya.
