Terusir dari rumah sungguh menyakitkan hatiku. Seakan langit runtuh seketika. Bumi bergoyang begitu dasyat. Luarbiasa cobaan yang kujalani.
Butuh waktu cukup lama, dan sangat lama untuk menghapus sakit hati ini. Melenyapkan luka jiwa yang teramat dalam. Bagai tengah menghadapi sakaratul maut, begitulah gambaran tentang sakit hatiku saat itu.
Makanya aku dapat memahami, masalah cinta banyak yang bunuh diri. Karena memang penderitaan yang dirasakan luar biasa dasyatnya. Seolah dunia sudah gelap, tidak ada cahaya terang lagi.
Aku hanya tersenyum simpul disaat teman dan keluarga membesarkan jiwaku. Aku hanya tertawa geli dalam hati, upaya mereka agar aku dapat segera melupakan masa lalu.
Andai saja mampu untuk dijawab, akan kukatakan pada mereka. Kan saya menjalaninya .. Coba deh berada di posisi saya.
Cari Kesalahan.
Dapat kubayangkan sekarang, seperti apa sakit hati istri pertama ketika aku ceraikan. Dapat kurasakan saat ini, betapa luka hatinya, saat aku berpaling dengan Rosa, selingkuhanku yang kemudian kunikahi.
Tidak dapat kulukiskan bagaimana mantan istriku, berupaya bangkit dari keterpurukan cerai denganku. Terlebih sudah ada satu anak.
Seperti saat ini, begitu sulit untukku kembali bangkit. Begitu berat untuk tegak kembali. Untuk kembali berjalan. Seolah tubuhku lumpuh seketika, Sehingga tidak berdaya apapun lagi.
Sungguh aku menyesal jika mengingat ketololanku. Kebodohanku tertipu jebakan maut syetan. Terpedaya dengan duniawi.
Padahal tidak ada masalah yang terlalu berat dalam rumahtanggaku dengan istri pertama. Dia juga tidak selingkuh, sebagai prinsipku haram jika punya istri bermain hati dengan pria lain.
Hanya alasan konyol kuceraikannya. Alasan terlalu dicari-cari untuk memojokkan dan menceraikannya. Sebuah ungkapan yang selalu ku ulang-ulang. Karena aku tidak suka dia kurang sigap menyediakan kebutuhanku berangkat kerja. Kurang peduli denganku, karena lebih penting mengurus anak saja.
Dasar aku ini pria bajingan. Aku ingin berteriak sekuat tenaga, agar seluruh dunia tahu, kalau aku ini bajingan. Sungguh penyesalanku teramat dalam.
Hanya memikirkan diri sendiri. Membuatku mengorbankan dan tidak memikirkan perasaannya. Aku hanya memikirkan ingin selalu bersama selingkuhanku. Meski wajahnya tidak secantik istri pertamaku.
Seperti Orang Asing
Berjalan tahun kulewati bersama Rossa. Sampai aku memutuskan menikahinya, daripada hidup serumah tanpa nikah.
Awal hubunganku dengan Rossa juga tidak ada yang spesial. Saat bermain ke rumah Rosa, mungkin itulah si Raja Syetan menguji keimananku. Pas bersamaan aku sedang jenuh dengan rutinitas pernikahan dengan istri pertama.
Kulihat kehidupan Rosa jauh lebih baik dari aku. Memiliki rumah sendiri, mobil, perabotan mahal, sampai mempunya uang tabungannya sangat banyak.
Rayuan gombal kulancarkan pada Rosa. Dan langsung terkena sasaran. Karena memang diakui Rosa sudah lama tertarik denganku.
Sejak itu, hubunganku makin mesra dengan Rosa. Semakin membuatku sering kerumahnya. Semakin hangat Rosa memelukku, mendekapku, dan melayaniku. Layaknya sebagai istri.
Makin hari makin membuatku jatuh cinta. Sampai tidak ingat ada anak dan istri menunggu di rumah. Bersama Rosa seakan dunia ini begitu indah. Aku tidak ingin kehilangan Rosa. Bagiku saat itu, lebih baik kehilangan istri pertama.
Akhirnya aku menikah dengan Rosa setelah ceraikan istri pertama. Begitu terbuai dengan layanan dan perhatian, aku merasa sebagai Raja di hati Rosa.
Setelah dua anak kudapatkan dari Rosa, masalah rumahtangga mulai terjadi. Keributan kecil mewarnai konflik pernikahanku. Tiada hari tanpa keributan. Berbagai masalah sepele menjadi besar untuk diributkan.
Rosa tidak lagi mau menggubris kemarahanku. Tidak menanggapi protesku sebagai kepala keluarga. Dia tidak peduli keberadaanku di rumah. Boleh dianggap Rosa melihatku seperti orang asing.
Datanglah masa yang membuatku lunglai. Dengan tegas dikatakan Rosa, menyuruh aku pergi dari rumahnya. Dan perceraian sudah disiapkan pengacaranya. Sambil melempar sebuah foto, dia telah memiliki pacar dan akan menikah.
diceritakan Andi di Jakarta
